Rabu, 07 November 2012

Anak Gerbong



Ogenkidesuka minna, kali ini ane mau ngepost cerpen karya mas Aditya Rizky Gunanto, tentang fans JKT48 yang berjuang dengan semangat untuk mensuport idolnya, yang hanya bermodalkan nekat. bisa di bilang fans ini wota
banget yah bhaha. yaudah gak perlu banyak basa-basi lagi. soalnya ane gak suka yang namanya basa-basi, toh ujungnya juga ke intinya okeˇ) . Nah langsung aja ke cerpennya. Selamat membaca ˇ)


BUKAN FANS BIASA ( ini adalah sebuah cerita pendek yang didedikasikan untuk Fans Serang & Rangkas, para “Anak Gerbong”)

Embun pagi masih menetes di dedaunan. Seorang ibu tua menyapu halaman depan rumahnya. Di sebuah gapura, terdapat pendopo pos jaga, disana terlihat seorang pemuda, memakai kaos merah beratribut pin Cleo JKT48 di dada kirinya. Ia mengeluarkan dompetnya, terlihat dua lembar uang Rp. 50.000 ditemani beberapa pecahan uang Rp. 10.000 dan recehan lainnya. Dari kejauhan, seorang anak lelaki, yang umurnya tidak jauh beda dengan anak lelaki sebelumnya.

“Lo udah bawa poster Shania?” Tanya pria yang memakai pin Cleo.
“Nih, anak-anak yang lain pada kemana? Ketinggalan kereta nih kita ntar.” Tanya Ajie.

 Dari kejauhan, seorang wanita datang sambil berlari pelan. Di dadanya terlihat pin Sendy JKT48.

“Awang, Ajie!!” Teriak wanita itu.
“Ayu, yang lain mana?” Tanya Awang.
“Si Chandra tadi lagi nelfon pacarnya, biasa minta izin.” Jawab Ayu.

 Tidak lama, 6 orang anak lelaki datang sambil membawa atribut lainnya.

“Light stick siap?” Tanya Ajie.
“Udah, Jie. Nih Tab juga udah, gue gambar ini buat Melody.”
“Hp yang buat nonton tv ada yang bawa?”
“Gua bawa! Nih baterenya penuh kok.”
“Tinggal nunggu Chandra doang nih.” Lanjut Aji.
“Sorry, tadi cewek gue lagi PMS, susah bener izinnya.” Ucap Chandra yang sudah hadir.
“PMS, Pria Mesti Sabar.” Ledek Awang.

Gerombolan anak-anak Fans JKT48 itu berjalan bersama-sama. Sesampainya di stasiun, mereka menanti kereta menuju Jakarta. Kereta tiba, Awang dan kawan-kawan memasuki gerbong kereta. Mereka mulai mengumpulkan uang receh pecahan Rp. 2.000 untuk ongkos kereta.

Terlihat kerumunan pasar di samping rel kereta, kini mereka sudah sampai di Jakarta, tepatnya stasiun kebayoran. Awang dan keluar dari gerbong. Ya, seperti biasa Jakarta, panas, gersang, tak menyurutkan semangat anak-anak gerbong ini menonton penampilan JKT48.                                      Ajie yang segera menyetop angkot berwarna putih bicara dengan supir.

“Bang, kalo nyarter angkot ke Pulo Gadung Trade Center berapaan?” Tanya Ajie.
“Elu berapa orang?” Tanya si supir.
“Tuh liat aja.” Ajie menunjuk ke arah teman-temannya.
“Yauda borongan aja, elu pada balik lagi gak kesini, ntar abang tungguin aja disana, tapi tambahin uang rokok.” Jawab si supir.

Ajie dan kawan-kawan masuk ke angkot. Karena angkot hampir penuh, Chandra duduk di depan pintu angkot. Sesampainya di Pulo Gadung, Awang dkk keluar dari angkot.

“Tong, bayar sekarang aja, abang mau narik lagi, ntar abang jemput sorean.”
“Berapa bang?”
“Yaudah setengahnya aja, seratus tiga puluh ribu aja sini.”
“Kok mahal bang?” Tanya Ajie.
“Kan ampe depan gedung noh.”

Awang Dkk mengumpulkan uang dan membayar ke supir. Gerbang konser Ampuh 100% masih ditutup. Awang dkk duduk dekat situ. Pukul 11.11 siang, gerbang dibuka. Anak-anak gerbong itu masuk dan memenuhi stage area paling depan. Sambil menunggu acara dimulai, fans asal Banten itu berbagi minum dan jajanan seperti gorengan.

Ampuh 100% dimulai, JKT48 memaki seifuku kemeja putih dan dasi beserta celana panjang hitam. Lagu Aitakata membuka sorak sorai penonton. Anak-anak Banten itu melakukan Chant di dekat para member JKT48. Di akhir acara ampuh 100%, JKT48 menampilkan lagu Ponytail To Shushu.
Setelah perform, beberapa member sempat menyapa Awang dan kawan-kawan yang berada paling depan.

Maghrib mulai mendekat. Suasana Jakarta Maghrib kini menyelimuti Pulo Gadung. Awang dkk cemberut menunggu si supir angkot yang menjemput. Chandra gelisah dengan telepon genggamnya, pacarnya terus menginterogasi keberadaannya. Wajah panik tampak di raut Ayu.

“Kenapa Ayu?” Tanya Ajie.
“Dompet gue gak ada. Kayaknya cowok yang pake jaket tadi deh, yang deketin kita pas abis jajan.” Jelas Ayu.
“Hp gue juga gak ada.” Lanjut Aryo.

 Kepanikan melanda Anak-anak gerbong itu. Malam mulai tiba.

“Gue laper, tapi kan dompet gue ilang.” Ayu memelas.
“Ah, mana tuh supir angkot gak dateng-dateng, janjinya kayak Caleg.” Gerutu Ajie.

 Awang mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah.

“Ndro, nih beliin air sama jajanan buat anak-anak.” Pinta Awang.
“Tapi Wang, ini kan duit pribadi lo. Duit patungan anak-anak kan---“ Jawab Indro.
“Udeeeh sana jalan, kita laper bareng-bareng, seneng bareng, pulang bisa gendong-gendongan kan.”
“Gila lo Wang, jalan kaki ke Rangkas, Serang?” Tanya Ayu.
“Kalo kita bareng-bareng gak berasa, semuanya bisa selesai kok.” Ucap Chandra.

 Indro kembali dengan kresek jajanan berisi air mineral dan gorengan. Fans Banten itu terlihat ceria saat makan bersama dari satu plastik bersama-sama. Canda tawa, berbagi air minum hingga berbagi cabai gorengan mereka lakukan.

“Nah, udah pada kenyang kan? Sekarang tinggal mikir cara kita pulang.” Ajak Awang.
“Tapi udah hampir jam 8 malem gini Wang, naik apaan?” Tanya Ayu.
“Nah, tuh ada mobil polisi, minta tolong aja.” Ajie segera menghampiri Pak Polisi.
“Pak Polisi, kita nebeng dong sampe Kebayoran.” Minta Ajie.
“Lho, kamu gak liat itu Pos Jaga saya? Saya ini baru patroli, suruh nganterin anak ilang lagi.” Ajie kembali kepada teman-temannya dengan wajah murung.

Awang dkk duduk di depan Pulo Gadung Trade Center. Awang menghembuskan rokoknya. Saat wajah mereka menunjukkan putus asa, seorang pria, yang jauh lebih tua dari mereka menghampiri kumpulan anak gerbong itu.

“Tong, pinjem korek dong.” Minta pria itu.
“Nih bang.” Awang memberikan.
“Ini abis tawuran apa nunggu dikasihanin rame begini.” Tanya pria itu.
“Nunggu dikasihanin bang, kita mau pulang ke Rangkas, Banten, naik kereta dari Kebayoran, tapi ongkosnya mau abis, tinggal buat naik kereta.” Ujar Ajie.
“Lha, saya mau ke Kebayoran nih. Tuh mobil saya, ngompreng mau?” Ajak pria itu.
“Abang ke Kebayoran ngapain?” Tanya Ajie.
“Cari nafkah, dagang sayur. Kalo mau boleh tuh nebeng ngebak di belakang, tapi ada dagangan.”

Sorak sorai gembira anak-anak gerbong kini terdengar kembali. Mereka duduk dibelakang ditemani sayuran segar untuk dijual dipasar. Awang dan Chandra duduk depan bersama supir.

“Ini pada abis acara apaan Tong, rame bener?” Tanya supir.
“Abis nonton konser Bang.” Jawab Awang.
“Apaan? Slank? Abang mah gak ngerti lagu sekarang, ngertinya yang dulu-dulu.”
“Bang, makasih nih ya mau bantuin kita.” Ucap Chandra.
“Sama-sama Tong. Dulu abang kalo abis main bola nih, tarkaman, juga nyari komprengan gini kalo pulang.” Lanjut si supir.
“Abang namanya siapa?” Tanya Awang.
“Ahmad.”

Rel kereta mulai terlihat. Anak-anak gerbong itu turun dari mobil bak Bang Ahmad.

“Bang Ahmad, makasih ya.” Ucap anak-anak itu bersamaan.
“Iye Tong sama-sama. Kapan-kapan Abang diajak ye nonton konser Jakarta48.” Jawab Ahmad.

 Anak-anak gerbong dari Banten itu menunggu kereta yang menjemput mereka untuk pulang.

*

Malam itu cukup sepi. Terlihat Chandra sedang duduk berdua dengan seorang gadis yang cukup manis. Terlihat wajah gadis itu cemberut, bibirnya manyun ingin jatuh.

“Mau apa kamu?” Ucap si gadis.
“Mau minta izin.” Jawab Chandra.
“Ngapain?”
“Besok, abis subuh, aku sama temen-temen mau ke Jakarta lagi.”
“Ngapain? JKT48 lagi?”
“Iya.”
“Kamu tuh, gak cape ya nyiksa diri sendiri. Kemaren barang temen-temen banyak yang ilang, pulangnya kayak gembel, besok apalagi?”
“Besok ya aku mau nonton JKT48 di DaSaR, di RCCI.” Lanjut Chandra
“Besok tanggal jadian kita.” Ucap si gadis. Chandra hanya tertunduk diam.
“Ya kamu pilih ajalah, hubungan kita apa JKT48.”Lanjut si gadis.
“Aku... Pilih... besok berangkat ke Jakarta.” Jawab Chandra.
“Oh, kamu lebih milih JKT48 daripada aku?”
“Aku masih pengen sama kamu. Tapi kalo kamu ngasih pilihan kayak gini, ya aku harus milih.”
“Milih JKT48?”
“Enggak, aku milih buat nemenin temen-temen aku nonton JKT48 besok.” Jawab Chandra tegas. Chandra segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan pacarnya.

**

Suara kumandang adzan subuh mulai terdengar. Anak-anak fans JKT48 Banten berkumpul di lapangan kelurahan.

“Nah, kan ntar JKT48 perform jam 9, kita naik kereta pertama nih ya.”
“Asik juga ya kita berangkat pagi-pagi gini.” Jawab Indro.
“Semua barang udah siap? Hp TV, buat ntar nonton Cek n Becek?” Tanya Awang.
“Siap Wang. Lightstick juga udah semua. Lho, Chandra ikut juga? Pacar lo gimana?”
“Santai ajalah, pacaran bisa dicari, persahabatan sampai mati.” Jawab Chandra.

Teman-teman Chandra merasa bangga memiliki teman seperti Chandra.
Anak-anak gerbong itu kini memasuki kereta. Sesampainya di Kebayoran, mereka menyetop angkot, kalini angkot dengan warna yang beda dengan kemarin. Portal RCCI terlihat. Fans dari Banten sampai di depan studio pukul 8 pagi kurang.

Jam menunjukkan 8.23 pagi. Seorang tim kreatif menyuruh para fans JKT48 untuk masuk studio. Karena pintu masuk yang kecil, para penonton berdesak-desakan masuk. Indro dan Ayu yang tersisih akhirnya berada dibarisan belakang.

“Maaf, studio penuh, kamu berdua gak bisa masuk.” Ucap crew tv.
“Tapi kak, temen-temen kita didalem.” Ucap Ayu.
“Iya tapi didalem penuh.”
“Bang, mereka temen kita bang, tolong banget mereka boleh masuk.” Ucap Awang menghampiri crew tv.
“Udah gak bisa, kok ngeyel dikasih tau?” Crew tv mulai kesal.
“Kita jauh-jauh dari Serang, Rangkas barengan, masa pas nonton JKT48 kita misah. Kita mau barengan Bang.” Lanjut Awang.
“Yauda, kalian bareng-bareng aja nonton diluar kalo susah diatur.” Ucap crew tv dengan nada tinggi.
“Mas, yuk udah mau on air, talent udah siap. Mereka saya yang urus.” Ucap seorang crew lain.
“Yauda lo urus deh nih dua anak rewel.” Ucap crew dengan galak.
“Bang kita mau masuk, temen-temen kita didalem.” Minta Ayu.
“Yaudah iya gue ngerti. Sekarang gausah bawel, ikut gue.”
“Bang, Abang crew juga? Kalo yang tadi?” Tanya Indro sambil berjalan.
“Iya, gue anak baru. Kalo yang tadi senior, makanya songong.”

Crew junior itu memberi instruksi agar Ayu dan Indro masuk ke studio tanpa ketahuan. Awang dkk di dalam studio masih gelisah menunggu kedua temannya. Aglo, host acara DaSaR sudah make up.Ayu dan Indro datang dari pintu lain, kini anak-anak gerbong itu siap beraksi.

JKT48 membuka acara DaSaR dengan membawakan lagu Aitakata. Semua fans melantunkan Chant. Para member JKT48 bersemangat di acara DaSaR. Setelah segment satu, penonton studio di rolling karena di belakang studio masih banyak yang menunggu. Awang Dkk yang keluar studio dengan gembira bertemu dengan crew tv itu.

“Bang, makasih ya uda bantuin temen saya tadi.” Ucap Chandra.
“Ya sama-sama. Dulu gue juga kayak lo kalo nonton GIGI, rame-rame gini, kalo satu gak masuk ya yang lain barengan gak masuk.” Ucap crew tv itu.
“Makasih nih Bang sekali lagi. Nama abang siapa nih? Kali aja besok-besok kesini lagi.” Tanya Chandra.
“Panggil aja Esa.” Ucap crew tv itu.

***

 Notes:

Cerita-cerita pendek di atas adalah sedikit adaptasi dari cerita perjuangan para Fans JKT48 yang sekiranya belum diketahui teman-teman. Perjuangan bersama mencari transport, menunggu para member di parkiran, menonton Mega Konser hingga jam 2 pagi, jauh-jauh ke Esa Unggul untuk bernyanyi “Hari Raya” bersama Member JKT48.

Bagi saya dan beberapa teman, mereka adalah fans setia yang berjuang agar bisa melihat senyum para member, menonton idola secara langsung, membeli souvenir dari Official dan perjuangan lainnya. Jauh-jauh naik kereta menuju Jakarta hanya ingin melihat para idola meski banyak resiko yang mereka tempuh.

Fans teman-teman dari Banten, adalah wujud sejati para pengagum yang selalu ingin melihat idolanya. Mereka bukan fans biasa, yang mau berjuang demi melihat para idola dipanggung. Dan yang pasti, mereka bukan Zombie yang harus dibasmi dan dijauhi.



Aditya Rizky Gunanto
@AdityaRizkyG
Jakarta, 16 Agustus 2012, 07.45 WIB



Dedikasi untuk Fans Banten, para “Anak Gerbong”.












family 48 serang & rangkas bitung




dukung terus oshi-oshi kalian. salam fans JKT48 . Jei! Kei! Ti! Fourty! Eight! . udah gitu aja hehe . Ganbatte!!!  (҂'̀'́)9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar