k basa-basi lagi, langsung aja ke TKP haha. Oh iyah jangan lupa ane mau ngasih saran siapin tisu yah sebelum membaca. bhaha . Selamat membaca (⌒˛⌒)
Sepeda Untuk Shania
Aku berjalan menuju sekolahku. Pagi itu masih segar
udaranya. Beberapa teman melewatiku
dengan
sepedanya. Aku percepat langkahku. Setelah melewati sebuah supermarket berlabel
Tujuh11, aku
bertemu dengan seorang wanita memakai seragam yang sama dengan sekolahku.
Rambutnya
panjang, wajahnya manis
“Shania.”
Sapaku pada wanita itu.
“Hei...”
Balas Shania.
“Shan, udah
ngerjain PR matematika?” Tanyaku.
“Baru
selesai 13 nomer, abisnya susah.”
“Iya sih, MATEMATIKA,
Makin Tekun Makin Tidak Karuan ya, Shan.”
“Hahaha lucu
banget sih kamu.” Ucap Shania.
“Emangnya
Badut, lucu.” Balasku.
Aku dan Shania berjalan bersama. Kini aku dan
Shania memasuki gerbang sekolah. Aku
menghampiri
teman-temanku dikantin dan Shania menghampiri temannya di lorong sekolah. Bel
sekolah
berbunyi. Aku segera kekelasku yang dilantai dua.
Mentari sinari ruang kelas, hawa tepat tuk terbuai
lamunan. Melihat Shania yang duduk di
depanku,
membuat rasa ingin memanggil namanya. Ibu guru menyebut absen murid kelas.
“Shania
Junianatha?” Panggil ibu Guru. Aku dan Shania mengangkat tangan bersamaan.
“Aa.. A, a,
azzeeekkk. Yang dipanggil satu, yang nyaut, duaaaa.” Ledek Ochi.
“Sudah,
sudah.” Bu Guru menenangkan.
“Eh, Shan,
maaf yah.” Ucapku.
“Iyaa,
gapapa kok.” Balas Shania sambil tersenyum.
Pelajaran dimulai, Shania masih sesekali
menoleh kebelakang dan senyum padaku. Dan Ochi
pun juga
meledek.
Bel istirahat berbunyi. Aku keluar dari
mejaku, begitu juga Shania. Saat aku berjalan, aku
sempat
menabrak ia yang didepanku. Ia membalikkan badannya dan tersenyum. Ah, kenapa
harus
tersenyum
padaku? Membuat aku ingin mimisan saja melihat senyumnya yang manis.
Kantin siang itu cukup ramai. Aku duduk bersama
teman-temanku didekat tembok. Shania
duduk dengan
Ochi di tengah. Dari tempat dudukku, masih bisa terdengar suara Ochi dan
Shania.
“Ochi makan
Mie, Shania makan ayam, jadi Mie-Ayam.” Ucap Ochi.
“Terus,
Chi?” Tanya Shania
“Jadi kita
samaan. Toss!” Ochi menepuk tangan Shania.
“Dasar
singit, Ochi.. Ochi..” Ucap Shania.
“Emang
layangan koang, singit.” Balas Ochi.
Saat Shania sedang mengambil kecap, Ochi mencolek Shania.
“Shan, mau
liat orang gila gak?” Tanya Ochi.
“Siapa?”
“Tuh.” Ochi
menunjuk kearahku.
Shania melambaikan tangan ke arahku. Senang bukan main
pastinya diriku. Shania
melanjutkan
senyumnya, ia kemudian menunjuk tangannya ke arah gelasku. Ah, pantas saja Ochi
bilang aku
orang gila, ternyata aku memasukkan saos ke gelas es jerukku. Shania dan Ochi
masih
mentertawaiku.
Setelah jam pelajaran terakhir, aku dan murid-murid
sekolah berkerumunan keluar sekolah.
Saat aku
sedang berjalan, dari belakang, temanku menepuk pundakku.
“Sepedanya
udah ada tuh.” Ucap temanku.
“Mana?”
Tanyaku.
“Dibelakang
sekolah, kok tumben sih pengen naik sepeda?”
“Gapapa,
biar ada kenangannya aja.”
Aku dan temanku ke halaman sekolah untuk mengambil
sepedanya. Aku cek rantai dan rem
sepeda itu.
Setelah kuperiksa aman, aku bawa sepeda itu.
Ku kayuh sepeda itu. Rasanya cukup nyaman. Di ujung
jalan kulihat ada Shania.
“Shan..”
Panggilku.
“Eh, itu
sepeda siapa?”
“Bareng yuk,
mau gak?”
“Hem ,
tapi...”
“Tapi kan
Shania kalo jalan kaki capek, yuk.” Ajakku.
Shania duduk dibelakang dengan posisi miring. Ia
memangku tasnya. Aku terus mengayuh
sepedaku.
Sampai sudah
dirumah Shania.
“Makasih
yah.” Ucap Shania sambil tersenyum.
“Iya
sama-sama, eh, Shan.”
“Ya?”
“Kalo besok
pagi, bareng lagi kesekolah, terus pulangnya temenin ke toko buku mau gak?
Tanyaku.
“Hem... Mau
sih. Besok pagi ketemu dimana?”
“Didepan
rumahmu, gimana?”
“Oke, sampai
besok yah.”
Aku hanya membalas senyum manis Shania dan pergi
dari rumahnya. Shania masuk ke dalam
pagar dan
melambaikan tangannya padaku.
*
Pagi itu masih terasa sejuk. Aku sudah tiba didepan
rumah Shania. Ia sudah berdiri sambil
memakai
cardigans berwarna biru. Ia tersenyum dan langsung duduk di bagian belakang
sepeda.
Perjalanan
sepeda pagi cukup menarik, mulai membahas PR Bahasa Indonesia.
“Shan, udah
ngerjain PR bikin cerpen?” Tanyaku.
“Udah dong,
judulnya Sepeda Untuk Berdua, kamu?” Tanya Shania.
“Udah,
judulnya Hari Pertama.” Jawabku.
“Hihihi.”
Shania tertawa lucu.
“Kok
ketawa?”
“Iya, kalo
cerpen kita berdua digabung, Hari Pertama Sepeda Untuk Berdua, itukan kemarin.”
Aku merasa sangat senang saat Shania bicara seperti
itu. Semua terasa sangat indah, seolah
dunia hanya
milik berdua, sampai akhirnya....
“Azzeeekkk...
Sepedaan berdua.” Ochi datang dari belakang naik ojek motor.
“Duh, Ochi.”
Ucapku pelan.
“Apa lu? Duh
aduh, emangnya Ochi kenapa?” Tanya Ochi.
“Kayak yang
malem Jumat, masa tiba-tiba nongol.” Jawab Shania.
“Ciee, Ochi
naik ojek motor, kalo Shania naik ojek cinta, dadaaahh.” Balas Ochi.
Ochi dan ojeknya langsung melaju cepat setelah
meledek aku dan Shania.
Kini gerbang
sekolah telah terlihat, Shania turun dari sepeda dan masuk duluan. Aku menaru
sepdeda dan
merantai dan gembok dekat pagar halaman sekolah.
*
Pulang sekolah ditandai dengan bel. Shania
menungguku di depan sekolah. Aku mengeluarkan
sepda dan
kami naiki sepeda itu berdua.
Aku dan Shania menuju toko buku dekat komplek
rumah kami.
Sesampainya, aku langsung menuju rak buku
mancanegara, dan mengambil buku berjudul
Australia.
Setelah kubaca beberapa halaman, aku kembali menghampiri Shania.
“Beli buku
nggak, Shan?” Tanyaku.
“Enggak,
liat majalah aja, kamu?”
“Tadi Cuma
mau baca buku doang bentar, eh makan yuk.”
“Dimana?”
“Udah ntar
pasti suka.”
Di sebrang toko buku itu ada sebuah cafe kecil. Di
cafe itu tertuliskan “Warung Pemadam
Kelaparan”.
Aku dan Shania duduk di depan dekat jalanan. Angin sore mulai terasa.
“Mau makan
apa, Shan?” Tanyaku
“Hem disini
yang spesial apa?”
“Kalo yang
spesial disini, tumis kaktus, kucing saus tiram, tapi kalo yang spesial
dihatiku ya kamu.”
“Gombal.”
Balas Shania sambil tertawa.
“Gombal mah
yang dipinggir jalan.” Balasku.
*
Sore mulai menyapa, aku dan Shania masih
bersepeda. Saat bersepeda menuju jalan pulang,
ada sebuah
turunan yang curam di depanku.
“Shan,
berani gak?” Tanyaku.
“Turunan
doang? Berani lah.”
“Tapi gak
pake rem.”
“Terus
berentinya gimana?”
“Detak
jantung kita yang berentiin.”
“Mati
iyadeh.”
“Berani gak,
Shan?”
“Siapa
takut.” Balas Shania sambil memelukku.
Aku hanya mendorong sedikit sepedaku dan
sepeda melaju kencang, kurasa angin
menghembus
kemejaku. Pelukan Shania dari belakang makin erat. Aku merasakannya. Kami
berdua
berteriak.
Saat sampai diujung turunan, aku menekan
rem. Aku dan Shania masih mengatur nafas karena
sepeda kami
terlalu kencang tadi. Shania turun dari belakang sepeda dan berdiri di
sebelahku.
“Hah, gila,
tegang banget yah.” Ucap Shania.
“Iya, Shan.”
Balasku.
“Itu
hidungnya kenapa?”
“Ha?” Aku
memegang hidungku dan ada cairan berwarna merah.
“Ih, kok
mimsan, nih tissue.” Shania memberikan tissue padaku.
“Yah,
mimisan deh.” Jawabku sambil mengelap darah dihidung.
“Iya, kok
bisa deh?”
“Abisnya,
tadi Shania meluknya kenceng banget.”
“Terus?”
“Terus,
akunya seneng banget.”
“Ih... Bodoh
deh.” Balas Shania sambil mencubiti aku.
Kami berdua
jalan bersama sambil menenteng sepeda dan bergandengan tangan sore itu.
*
Suasana kelas kosong pagi itu cukup ramai.
Aku di depan pintu kelas bersama teman-temanku,
Ochi yang
sedang duduk sendiri dikursinya, dihampiri Shania.
“Ochi, mau
curhat dong.” Minta Shania.
“Azeeekk,
pasti curhatin pria ojek cinta itu kan?”
“Apaan sih,
eh tapi ya, kemarin tuh seru banget gue sama dia, makan bareng, pulang bareng.”
“Cie Shania
jatuh cinta.” Ledek Ochi.
“Ah, mungkin
bagi dirinya hanya teman sekelas saja, yang jalan pulangnya searah.” Lanjut
Shania.
“Keberadaannya
seperti angin ya? Kayak numpang lewat gitu?”
“Iya, Chi.
Kadang selalu bercanda, padahal kita selalu saling bicara.” Lanjut Shania.
“Kenapa gak
ngomong aja?” Tawar Ochi.
“Ngomong
apa?”
“Ngomong ke
dia, tentang perasaannya Shania, daripada nyesel.” Tantang Ochi ke Shania.
“Gak tau
deh, Chi. Bingung.” Jawab Shania.
*
Aku menenteng sepedaku, Shania berjalan di
sebelahku. Pagar rumah Shania terlihat. Aku
berdiri di
depan rumahnya.
“Shan, boleh
minta tolong gak?”
“Apa?”
“Sepeda ini
besok kamu yang bawa yah kesekolah.”
“Lho,
kenapa?”
“Gapapa sih,
besok kayaknya aku telat, mau ya?”
“Yaudah deh,
mampir gak?” Tawar Shania.
Ini adalah kali pertama Shania menawari aku untuk
mampir kerumahnya. Aku mengiyakan
ajakannya.
Aku duduk diteras , Shania keluar dari dalam rumah
membawakan sirup berwarna merah dan
makanan
kecil.
“Shan, enak
yah sore-sore disini, hehe.” Ucapku.
“Enak
pemandangannya, apa sama aku?” Tanya Shania.
“Hem..
Pemandangan indah, bisa tambah indah tergantung sama siapa nikmatinnya.”
“Emang
kenapa sih sama sepedanya?” Tanya Shania.
“Gapapa,
pokoknya besok Shania bawa yah ke sekolah.”
Setelah menghabiskan minum, aku pamit pada
Shania untuk pulang. Kebetulan orang tua
Shania
sedang tidak dirumah, jadi aku tidak berpamitan pada mereka.
Aku keluar
pagar dan masih tersenyum pada Shania.
Saat Shania sedang melihat sepeda itu, ia
menemukan sepucuk surat yang terselip di kursi
belakang, di
surat itu tertulis, “baca dikelas yah, Shania.”
*
Shania mengayuh sepeda itu sendirian menuju
sekolah, tanpa diriku. Sesampainya dikelas, ia
membuka surat
itu. Dibacanya surat dengan tulisan tanganku.
Shania, maaf aku gak bisa ngomong langsung.
Sepedanya gimana? Enak kan?
Hem... Maaf, mulai semalam aku pindah ke Australia.
Aku minta maaf banget sama kamu, aku gak bisa ngomong
langsung, aku benci perpisahan.
Aku harap kamu bisa ngerti, Shan.
Aku nyaman kalo ada di dekat kamu, berdua sama kamu.
Maafkanlah Shania, ampunilah diriku ini yang tidak
menyatakan cinta, aku adalah lelaki yang jahat.
Aku gak kemana-mana kok, cuma beda jarak aja sama
kamu, sepeda itu tetep ada buat kamu.
Kalo kamu baca surat ini, kamu pasti udah nyobain
rasanya naik sepeda itu tanpa aku.
Aku harap kamu betah naik sepeda itu, sampai... two
years later, pas aku balik, buat kamu
Shania meneteskan air mata saat membaca
surat itu. Lalu ia menengok ke belakang, tempat
dimana aku
biasa duduk di kelas. Ochi yang heran melihat Shania bersedih, langsung segera
menghampiri
ke meja Shania.
Shania tidak berkata sedikitpun saat Ochi
menghampirinya, Ochi mengambil surat di tangan
Shania, lalu
membacanya. Ochi menengok ke meja belakang, lalu tersenyum.
***
Arigatou
gozaimasu minna san, udah mau mampir ke blog ane. gimana tadi cerpennya ?
seru gak ? seruuu doong pastinya. udah ngehabisin tisu berapa banyak
tadi ? bhaha . Semoga gak bosen yah mampir ke blog ane. (⌒˛⌒)
Oh iya ane cuma mau ngasih tahu blog ini yang berisi cerpen-cerpen hanyalah untuk tugas sekolah. Arigatou (⌒˛⌒)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar